DETEKTIFSQUAD.COM
BREBES –Jateng,- detektifsquad.com Pembangunan jalan cor beton Jalan Usaha Tani (JUT) yang sejatinya bertujuan untuk memudahkan transportasi dan aksesibilitas ke lahan pertanian warga, kini menuai sorotan tajam. Pasalnya, hasil pembangunan infrastruktur di Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, yang meliputi tiga desa—Desa Dumeling, Kertabesuki, dan Keboledan—diduga kuat dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis (spek).
Berdasarkan pantauan langsung awak media di lapangan, indikasi ketidaktransparanan sudah terlihat jelas sejak dari papan informasi proyek. Di papan tersebut, hanya tertera nilai pagu anggaran, tanpa mencantumkan keterangan volume yang krusial seperti panjang, lebar, serta ketebalan jalan cor beton yang akan dibangun. Ketiadaan informasi ini memicu dugaan adanya ruang untuk pengurangan volume dan pengerjaan yang asal-asalan.

Keluhan Warga: Rapuh dan Kurang Semen.
Dugaan pengerjaan di bawah standar ini dikonfirmasi oleh warga setempat yang melintasi jalur tersebut.
”Kami sebenarnya bersyukur jalan ini dibangun. Namun, pembuatannya terkesan asal jadi. Kalau dilihat dari atas memang tampak baik, tapi di sisi kanan dan kiri terlihat rapuh dan kurang semen. Dugaan saya, cor beton ini tidak akan bertahan lama karena sepertinya ada pengurangan volume,” ujar YS (46), salah seorang warga Desa Dumeling, Sabtu (27/6/2026).
Diketahui, proyek di Desa Dumeling tersebut dikerjakan oleh CV. Unggul Putri dengan nilai pagu anggaran sebesar Rp262.841.000, berdasarkan nomor SPK: 00.3.2/SPK/PL 66973351/2026.
Kondisi Serupa di Desa Keboledan
Kondisi yang tidak jauh berbeda ditemukan di Desa Keboledan. Proyek JUT yang digarap oleh CV. Perdana Mekar di desa tersebut juga tidak menyertakan detail dimensi (panjang, lebar, tebal) pada papan informasinya.
Lebih memprihatinkan, pengerjaan di lokasi ini diduga mengabaikan struktur dasar. Pihak pelaksana disinyalir tidak menggunakan hamparan beskos (sirtu) ataupun lapisan lean concrete (lantai kerja/b0). Tanah sawah hanya diratakan, dilapisi plastik, lalu langsung dicor.
Warga khawatir, mengingat karakteristik tanah persawahan yang labil, konstruksi tanpa fondasi yang kuat ini akan cepat hancur saat dilalui kendaraan pengangkut hasil panen yang bermuatan berat. Jika hal itu terjadi, proyek ini dinilai hanya akan menghamburkan uang negara secara sia-sia.

Satu Kontraktor di Tiga Titik ?
Muncul indikasi kuat di kalangan masyarakat bahwa ketiga proyek rabat beton di Desa Keboledan, Dumeling, dan Kertabesuki ini dikendalikan oleh oknum kontraktor atau pelaksana yang sama, meskipun di papan informasi menggunakan bendera perusahaan (CV) yang berbeda. Hal ini mencuat karena adanya kesamaan pola pengerjaan dan kemiripan modus ketidaktransparanan di tiga lokasi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya melakukan klarifikasi kepada pihak kontraktor pelaksana serta dinas terkait guna mendapatkan keterangan resmi dan berimbang mengenai teknis pengerjaan proyek tersebut.
Masyarakat berharap penuh agar dinas terkait, khususnya pihak Inspektorat, segera turun ke lapangan untuk melakukan audit dan mengecek fisik proyek secara langsung. Jika terbukti ditemukan adanya kecurangan atau pengurangan volume secara sengaja, pihak berwenang didesak untuk memberikan sanksi yang tegas sesuai hukum yang berlaku.-(Red-MDS)
Reporter: Rino. K
Editor: Tirto
#brebesberes
