DETEKTIF SQUAD.COM
BREBES -Jateng,- detektifsquad.com Tanah di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, terus bergerak perlahan. Retakan demi retakan di lantai rumah menjadi saksi kegelisahan ratusan warga yang kini hidup di antara harapan dan ketidakpastian.
Di tengah ancaman rumah ambruk, mereka memilih bertahan, bukan karena kuat, tetapi karena belum ada tempat yang benar-benar aman untuk dituju.
Sejak bencana tanah bergerak terjadi pada 29 Januari 2026, kehidupan warga berubah drastis. Dinding rumah mulai miring, lantai amblas, dan hujan menjadi momok baru.

Namun, di balik kondisi itu, semangat gotong royong justru semakin terasa. Kaum laki-laki memperkuat tiang dan pagar rumah seadanya, sementara para perempuan mengangkut tanah dengan digendong untuk menimbun lantai yang pecah agar air tidak masuk saat hujan turun.
Kasmi (60), salah satu warga terdampak, memilih tetap tinggal di rumahnya yang rusak. Ia mengaku pernah mencoba tinggal di tenda pengungsian, namun kondisi yang tidak layak dan minim sanitasi membuatnya kembali pulang.
“Kami tidak mengungsi karena tenda tidak layak, tidak ada fasilitas yang cukup,” ujarnya lirih.
Ia juga mengaku hingga kini belum merasakan bantuan bahan makanan. Meski demikian, ia bersama warga lain berusaha bertahan dengan apa yang mereka miliki.
Data terakhir menunjukkan bencana ini berdampak pada 174 kepala keluarga atau sekitar 527 jiwa. Sebanyak 143 rumah di Dukuh Bojongsari dan Makam mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam. Sebagian rumah bahkan telah ditinggalkan karena kondisinya terlalu berbahaya.

Kasmi (60), salah satu warga terdampak, memilih tetap tinggal di rumahnya yang rusak. Ia mengaku pernah mencoba tinggal di tenda pengungsian, namun kondisi yang tidak layak dan minim sanitasi membuatnya kembali pulang.
“Kami tidak mengungsi karena tenda tidak layak, tidak ada fasilitas yang cukup,” ujarnya lirih.
Ia juga mengaku hingga kini belum merasakan bantuan bahan makanan. Meski demikian, ia bersama warga lain berusaha bertahan dengan apa yang mereka miliki.
Data terakhir menunjukkan bencana ini berdampak pada 174 kepala keluarga atau sekitar 527 jiwa. Sebanyak 143 rumah di Dukuh Bojongsari dan Makam mengalami kerusakan dengan tingkat yang beragam. Sebagian rumah bahkan telah ditinggalkan karena kondisinya terlalu berbahaya.
Bantuan tersebut sementara ditampung hingga dirasa cukup untuk dibagikan merata kepada warga terdampak.
“Bantuan masih sangat sedikit, jadi sementara kami tampung dulu,-ungkapnya,-(Red-MDS)
Reporter : Rino
Editor : Tr
(Rino)
