DETEKTIF SQUAD.COM
JAKARTA,- detektifsquad.com 9 November 2025 — Guru Besar Hukum Internasional, Ekonom, dan Tokoh Pers Nasional, Prof. DR. KH Sutan Nasomal SH, MH, menyampaikan ucapan selamat Hari Pahlawan kepada bangsa dan negara Republik Indonesia, memperingati periode 10 November 1945 hingga 10 November 2025.
Berbicara dari Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka di Jakarta melalui sambungan telepon seluler pada 9 November 2025, Prof. Sutan Nasomal, yang juga Presiden Partai Oposisi Merdeka, Jenderal Kompi, serta Pendiri/Pengasuh Ponpes ASS, SAQWA PLUS, mengungkapkan pandangannya mengenai kilas balik perjalanan bangsa.
Visi Jenderal Soeharto dan Kebangkitan Ekonomi
Dalam wawancaranya dengan para pemimpin redaksi media cetak dan daring, Prof. Sutan Nasomal menekankan semboyan “Untuk Negaraku Indonesia, Jayalah Selalu”. Beliau menyatakan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Jenderal H.M. Soeharto telah menjadi “Negara Tangguh dan Disegani” oleh semua negara di dunia.
Prof. Sutan menggarisbawahi kesulitan dan kemiskinan yang melanda Indonesia pada era 1970-an, pasca-pemberontakan PKI, ketika negara ini dengan lebih dari 100 juta penduduk menghadapi tantangan kemiskinan terbesar di Asia.

”Perkembangan kemajuan negara NKRI ini bagaikan jalan berliku-liku layaknya. Tidak mudah sebagai Negara Miskin di era 1970,” ujar beliau.
Jenderal Soeharto kemudian menyusun rencana besar, termasuk program TRANSMIGRASI, yang bertujuan membuka hutan menjadi daerah permukiman dan lahan pertanian. Langkah ini dinilai strategis untuk memberdayakan masyarakat miskin memiliki tanah dan berladang, sekaligus mengamankan wilayah kosong dari potensi penguasaan asing.
Swasembada Pangan: Program pertanian yang berani dan terstruktur membuahkan hasil dalam 10 tahun, menjadikan Indonesia sebagai Negara penghasil beras terkuat dan diakui dunia.
Pusat Industri: Pada tahun 1980, Jenderal Soeharto membuka kawasan industri terbesar di Asia, menarik investor asing untuk membangun pabrik di seluruh Indonesia.
Puncak Kejayaan Ekonomi: Didukung oleh Sumber Daya Alam (SDA) yang luas, ekonomi Indonesia mencapai puncak kejayaan pada tahun 1990.
Pembangunan Merata dan Strategi Pedesaan
Pembangunan di era tersebut dinilai merata, menjangkau Sabang sampai Merauke. Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) menjadi agenda kerja nasional yang mengatur pekerjaan pemerintah pusat dan daerah, dengan pembangunan sebagai agenda utama untuk membantu masyarakat pedesaan.
Infrastruktur: Kota dan daerah dihubungkan melalui jalan raya, termasuk Jalan TOL layang dan penghubung antar kota, yang menjadi akses kemajuan pada masanya.
Pendidikan: Pembangunan sekolah dilaksanakan dengan pedoman “Tut Wuri Handayani” untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
Prof. Sutan secara khusus memuji strategi ABRI MASUK DESA yang dianggapnya istimewa.
”Strategi Jenderal H.M. Soeharto dengan ABRI MASUK DESA sangat istimewa. Desa tertinggal atau desa miskin dapat terbantu. Dibangun banyak jembatan dan mampu mendorong masuk kabel-kabel listrik. Sehingga desa yang gelap selama ratusan tahun berganti menjadi desa yang terang,” jelasnya.
Persatuan, Koperasi, dan Citra Internasional
Pemberdayaan ekonomi pedesaan juga didukung oleh program Koperasi yang didorong untuk membeli hasil pertanian, menjual pupuk murah, dan menyediakan kebutuhan desa. Kampung nelayan dimajukan melalui kredit perahu murah dan pembangunan tempat pelelangan ikan yang mudah dijangkau.
”Senyum Sang Jenderal H.M. Soeharto” disebut menjadikan Indonesia diminati seluruh dunia untuk belajar dan bekerja sama. Kekuatan pertahanan negara dibentuk oleh kerukunan ratusan suku, budaya, dan bahasa yang berbeda, dipersatukan oleh Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, di tengah keberadaan 17.000 pulau.
Teknologi dan Budaya: Keberhasilan pembangunan juga dibuktikan dengan kepemilikan Satelit Palapa. Budaya Musyawarah mengikat semua ragam adat dan masyarakat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Spiritualitas: Indonesia juga diakui sebagai negara dengan jumlah Masjid terbanyak nomor satu di dunia.- ( Red-DS-TR )
Narsum : Prof. DR. KH Sutan Nasomal SH, MH menyampaikan rasa terima kasih seluruh rakyat Indonesia kepada Jenderal H.M. Soeharto, Presiden RI Ke-2, sebagai Sang Pahlawan. Beliau berharap momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 dapat digunakan oleh Presiden RI Jenderal Haji Prabowo Subiyanto untuk menetapkan Jenderal H.M. Soeharto sebagai Pahlawan Besar Indonesia, agar para pemimpin penerus selanjutnya dapat lebih baik dalam pengabdian yang ikhlas.
